Senin, 8 Juni 2026

Terbit : Jum, 16 Januari 2026

Ketika Nama Nabi Menjadi Jalan Rezeki: Hikmah Dzikir Jumat Terakhir Bulan Rajab

Oleh : Media Ansor Warulor
Ketika Nama Nabi Menjadi Jalan Rezeki: Hikmah Dzikir Jumat Terakhir Bulan Rajab

Di antara momentum spiritual yang penuh makna dalam setahun adalah Jumat terakhir bulan Rajab. Ia hadir sebagai ruang sunyi bagi seorang hamba untuk menautkan doa dengan keyakinan, bahwa Allah Maha Mendengar setiap bisikan harap.

Para ulama mewariskan sebuah amalan sederhana namun sarat makna, yaitu membaca dzikir أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ sebanyak 35 kali pada Jumat terakhir bulan Rajab, ketika khatib berada di mimbar atau pada saat khatib duduk diantara dua khutbah , disebutkan dalam riwayat Rezekinya tidak akan terputus sepanjang tahun itu     لَا تَنْقَطِعُ الدَّرَاهِمُ مِنْ يَدِهِ ذٰلِكَ السَّنَةَ

Dzikir ini bukan sekadar bacaan lisan, tetapi pengakuan cinta dan keimanan kepada Rasulullah ﷺ. Dua nama Nabi, Ahmad dan Muhammad, mengajarkan bahwa rezeki sejati mengalir dari ridha Allah, melalui jalan syariat dan cinta kepada utusan-Nya.

Keterangan ini didukung pula dengan apa yang disampaikan oleh Al-Habib Ali bin Hasan Baharun (1361 H) yang menulis keterangan dari gurunya, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith sebagai berikut:

 فَائِدَةٌ. لِإِبْقَاءِ الدُّرَيْهِمَاتِ فِيْ جَمِيْعِ السَّنَةِ الْإِتْيَانُ بِهَذَا الذِّكْرِ (35 مرة) فِيْ آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبَ حَالَ الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ، وَهُوَ أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله، وَقَدْ جَرَّبَهُ الْكَثِيْرُ وَصَحَّ عِنْدَهُمْ

Artinya: Faedah, agar uang tak kunjung habis di sepanjang tahun (dianjurkan) membaca amalan ini sebanyak 35 kali di akhir Jumat bulan Rajab saat khutbah kedua, yaitu “Ahmad Rasûlullâh Muhammad Rasûlullâh”. Amalan ini telah dicoba oleh banyak orang dan terbukti berhasil (Al-Habib Ali bin Hasan Baharun, Al-Fawaid al-Mukhtarah, halaman 445).

Muncul pertanyaan, bagaimana bisa membaca amalan Jumat terakhir bulan Rajab saat khatib berada di mimbar, sementara ada larangan berbicara saat khutbah berlangsung? Dalam kitab yang sama, Kanzun Najah was Surur dijelaskan bahwa amalan tersebut bisa dibaca di dalam hati, atau dibaca ketika khatib duduk di mimbar sebelum khutbah, atau ketika doa untuk para sahabat:

السؤال كيف يقرأ والخطيب على المنبر وهو فى نفس الوقت مأمور بالانصات الجواب أنه ليس من شروط القراءة التلفظ بل استحضارها بالقلب يكفي او يقرأ حال الجلوس على المنبر قبل الخطبة او يقرأ حال الدعاء او الترضي من الصحابة لان المراد بالانصات حال الخطبة هو الانصات حال استماع اركان الخطبة لاغير.اه‍

Artinya, “Bagaimana kita membacanya? Sedangkan khatib di atas mimbar, dan di waktu itu kita diperintahkan untuk diam mendengar khutbah? Jawabannya, tidak disyaratkan untuk membacanya dengan mulut akan tetapi di dalam hati saja sudah cukup, atau dibaca ketika khatib duduk di mimbar sebelum khutbah, atau ketika doa untuk para sahabat, karena yang dimaksud untuk diam di dalam khutbah (inshatu) adalah diam mendengarkan rukun khutbah, bukan yang lainnya.”

Dalam realita kehidupan yang sering melelahkan, amalan ini mengingatkan kita bahwa rezeki bukan sekadar harta, melainkan ketenangan hati, rasa cukup, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang terus mengingat-Nya.

Amalan ini bukan sekadar tradisi. Ia adalah wahana harapan saat segala upaya terasa berat, pelita keimanan ketika gelap membisu, dan pengingat bahwa setiap helai doa yang tulus membawa getar rezeki tak terduga.

Tak ada satu pun dari kita yang benar-benar sendiri. Karena saat kita berdzikir, kita sedang berbicara dengan Dzat yang menciptakan kita. Dan saat kita berdzikir dengan nama-Nya yang Dia muliakan melalui Nabi Muhammad ﷺ, maka itulah momen ketika hati orang yang beriman diam dalam ketundukan dan sujud kepada Sang Pemilik Rezeki.

Semoga apa yang kita baca pada Jumat terakhir bulan Rajab menjadi ladang rahmat yang terus mengalir, bukan hanya untuk kita, melainkan untuk seluruh umat yang berharap pada kasih sayang Allah, yang Maha Memberi tanpa henti.

Referensi kitab dan kajian ulama:

  • al-Fawaid al-Mukhtarah, al-Habib Ali bin Hasan Baharun.
  • Kanzun Najah was Surur (kitab amalan Rajab).

Penulis: M.Fathurrozi, S.Sy

PR Gerakan Pemuda Ansor Warulor
Jl. Petani Rt. 13 Rw. 08 Warulor Wiradesa 51152
  • Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Warulor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan - Sekretariat: Jl. Petani Rt 013/08 Desa Warulor