
Alhamdulillāhi rabbil alamin. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan ihsan, serta menautkan kita dalam barisan panjang jam’iyyah Nahdlatul Ulama, jam’iyyah yang sejak awal berdirinya mengabdikan diri sepenuhnya untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Tepat pada peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-103 Hijriyah, Gerakan Pemuda Ansor Ranting Warulor menundukkan kepala dengan penuh takzim, mengenang jasa para muassis dan masyayikh NU, sembari meneguhkan kembali komitmen khidmah kami sebagai generasi penerus.
Selama lebih dari satu abad hijriyah, Nahdlatul Ulama telah menjadi benteng Ahlussunnah wal Jama’ah, menjaga keseimbangan antara teks dan konteks, antara tradisi dan modernitas, antara keislaman dan keindonesiaan. NU hadir bukan sekadar sebagai organisasi, tetapi sebagai manhaj al-fikr (cara berpikir), manhaj al-harakah (cara bergerak), dan manhaj al-‘amal (cara berkhidmah).
Sebagaimana dawuh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Irsyadus Sari fi Ma’na Qanun Asasi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama :
إِنَّ قِيَامَ هٰذِهِ الْجَمْعِيَّةِ لِلْخِدْمَةِ، لَا لِلْعُلُوِّ وَالِاسْتِكْبَارِ.
Dawuh ini menegaskan bahwa berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal bukan untuk mengejar kekuasaan, kebesaran nama, atau keunggulan sosial, melainkan untuk khidmah (pelayanan) kepada agama, umat, dan bangsa. Dengan kata lain khidmah adalah tujuan, tawāḍu‘ adalah jalan, kemaslahatan umat adalah orientasi.
Sebagai badan otonom NU, Gerakan Pemuda Ansor memikul amanah besar: menjaga nilai-nilai ke-NU-an di tengah tantangan zaman. Di era disrupsi informasi, polarisasi sosial, dan tantangan kebangsaan yang kian kompleks, Ansor dituntut hadir sebagai pemuda yang berilmu, berakhlak, berdaya saing, sekaligus berjiwa patriotik.
Ansor bukan hanya barisan fisik, tetapi barisan ideologis yang setia pada ulama, teguh pada NKRI, dan istiqamah dalam khidmah sosial-keumatan. Dari ranting hingga pusat, Ansor adalah denyut nadi NU di akar rumput.
Gerakan Pemuda Ansor Ranting Warulor menyadari sepenuhnya bahwa kekuatan besar NU lahir dari konsistensi kerja-kerja kecil di tingkat bawah. Ranting bukan sekadar struktur, tetapi ruang pengabdian nyata: menjaga tradisi keagamaan, menguatkan ukhuwah, mendampingi masyarakat, serta menjadi teladan akhlak dan kepedulian sosial.
Kami percaya, khidmah yang ikhlas meski dimulai dari langkah kecil akan dicatat sebagai amal besar di sisi Allah SWT.
Harlah NU ke-103 Hijriyah ini menjadi momentum muhasabah sekaligus tajdid (pembaruan niat). Bahwa menjadi warga NU dan kader Ansor bukan hanya soal identitas, tetapi tanggung jawab peradaban. Tanggung jawab untuk merawat Islam yang ramah, menjaga Indonesia yang damai, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.
Gerakan Pemuda Ansor Ranting Warulor berkomitmen untuk terus berjalan di bawah bimbingan ulama, setia pada khittah NU, dan istiqamah dalam khidmah demi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Akhir kata, kami mengucapkan Selamat Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-103 Hijriyah. Semoga NU senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk terus menjadi penopang umat, penjaga bangsa, dan rahmat bagi semesta alam.
اللهم احفظ نهضة العلماء، واحفظ علماءنا ومشايخنا، واجعلنا من خدام الدين والأمة.
Penulis : M.Fahurrozi, S.Sy (Ketua PR GP Ansor Desa Warulor)