
Pekalongan, 27 September 2026 — Ada pertemuan yang sekadar selesai ketika acara ditutup. Namun ada pula pertemuan yang diharapkan menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang. Semangat itulah yang mewarnai Pertemuan Rutin Nahdlatul Ulama dan Banom Desa Warulor yang digelar pada Ahad, 15 Rabiul Akhir 1448 H bertepatan dengan 27 September 2026, di Aula Kesejahteraan KSPPS BMT Nusa Kartika Warulor, Wiradesa, Pekalongan.
Mengusung tema “Menyatukan Langkah, Meneguhkan Arah, Membangun Masa Depan NU Warulor”, pertemuan ini menjadi forum pembuka yang mempertemukan PR NU, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU untuk melihat kembali kondisi organisasi, mengurai berbagai persoalan, sekaligus membicarakan cita-cita NU Warulor dalam jangka panjang.
Pertemuan ini diselenggarakan oleh GP Ansor Ranting Warulor sebagai langkah awal untuk membangun ruang komunikasi dan sinergi yang lebih kuat di antara NU dan seluruh Badan Otonom.
Membuka Musyawarah dengan Pertanyaan tentang Masa Depan
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Rois Syuriah NU Warulor, Kiyai Muslih Mudzakir, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan.
Suasana kemudian diarahkan pada refleksi melalui pemutaran video pengantar musyawarah.
Video tersebut membawa peserta melihat dua wajah NU Warulor.
Pertama, sebuah gambaran tentang NU Warulor 20 tahun mendatang: organisasi yang kuat dan tertata, kader yang siap melanjutkan perjuangan, aset keumatan yang terkelola, lembaga pendidikan dan sosial yang berkembang, pelayanan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang semakin kuat, serta keberadaan NU yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Namun setelah gambaran ideal tersebut, video membawa peserta kembali melihat realitas hari ini. Masih terdapat berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian: kaderisasi dan regenerasi yang perlu diperkuat, tata kelola organisasi yang perlu dibenahi, komunikasi antarunsur yang perlu ditingkatkan, aset keumatan yang belum seluruhnya terkelola secara optimal, hingga tantangan sosial generasi muda.
Video ditutup dengan pertanyaan reflektif:
“Apakah kita akan membiarkan keadaan ini berjalan begitu saja? Atau kita mulai hari ini menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk generasi yang akan datang?”
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk menuju sesi utama musyawarah.
Enam Suara, Satu Ruang Refleksi
Pada sesi “Suara Banom”, masing-masing unsur menyampaikan kondisi organisasi, persoalan yang dihadapi, cita-cita, upaya yang telah dilakukan, serta bentuk kolaborasi yang diharapkan.
Secara berurutan, IPPNU, IPNU, Fatayat NU, GP Ansor, Muslimat NU, dan PR NU menyampaikan pandangan masing-masing.
Dari berbagai paparan tersebut terlihat bahwa masing-masing Banom memiliki persoalan dan karakteristik yang berbeda. IPNU dan IPPNU menghadapi tantangan kaderisasi, komunikasi, keberlanjutan program, serta kebutuhan menciptakan lingkungan pertemanan yang sehat bagi pelajar.
Fatayat menghadapi tantangan regenerasi, keterbatasan waktu anggota usia produktif, serta kebutuhan penguatan arahan dan tata kelola kegiatan. Muslimat juga menghadapi persoalan regenerasi, kekompakan, kesehatan anggota, serta kebutuhan peningkatan kapasitas digital.
Sementara itu, Ansor menyoroti empat isu penting: kaderisasi dan regenerasi, aset keumatan yang belum terintegrasi secara kelembagaan, ketahanan sosial dan masa depan generasi muda, serta penguatan Koin NU sebagai bagian dari kemandirian umat.
Dari sisi PR NU, perhatian diarahkan pada penguatan kelembagaan, pendataan aset, serta optimalisasi potensi pendidikan dan tempat ibadah yang ada di Desa Warulor.
Berbagai suara tersebut memperlihatkan satu hal penting: Warulor memiliki banyak potensi, tetapi masih membutuhkan sistem yang mampu menghubungkan potensi-potensi tersebut menjadi kekuatan bersama.
Dari Banyak Persoalan, Mengerucut pada Dua Prioritas
Memasuki sesi musyawarah, forum dipandu oleh Sahabat Dr. Dahrul Muftadin Al-Hafidz, didampingi Sahabat Almuklis dan Sahabat Fatkhurrohim.

Forum kemudian mengurai berbagai persoalan yang telah disampaikan masing-masing unsur.
Setelah melalui pembahasan, terdapat dua persoalan prioritas yang dipandang membutuhkan perhatian dan langkah bersama, yaitu:
1. Aset Keumatan
Warulor memiliki sejumlah potensi keumatan, mulai dari lembaga pendidikan, masjid, musala, majelis, dan berbagai aset sosial lainnya.
Namun sebagian potensi tersebut masih membutuhkan pendataan, penataan administrasi, penguatan kelembagaan, serta sinergi agar dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat.
2. Kemandirian Umat dan Koin NU
Koin NU telah berjalan dan menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat. Ke depan, diperlukan penguatan sistem dalam hal pengumpulan, pencatatan, pengelolaan, pelaporan, dan pemanfaatan agar semakin tertib, transparan, dipercaya masyarakat, serta mampu mendukung pelayanan umat.
Selain dua persoalan prioritas tersebut, forum juga mencatat sejumlah agenda penting yang perlu terus dibenahi, antara lain kaderisasi dan regenerasi, tata kelola organisasi, komunikasi dan koordinasi, digitalisasi dan administrasi, ketahanan sosial, serta keberlanjutan anggota.
Forum menyadari bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi saja.
Dibutuhkan kerja bersama, pembagian peran, komunikasi yang sehat, dan program yang terintegrasi.
Komitmen Bersama: Tidak Berhenti pada Musyawarah
Sesi musyawarah kemudian ditutup dengan penandatanganan Dokumen Komitmen Bersama NU dan Banom Desa Warulor.
Dokumen tersebut menjadi simbol kesediaan bersama untuk tidak berhenti pada pembicaraan, tetapi melanjutkannya dalam bentuk langkah nyata.
Komitmen tersebut menekankan pentingnya memperkuat kaderisasi dan regenerasi, membangun organisasi yang tertata, mengintegrasikan program, mengoptimalkan potensi keumatan, memperkuat ketahanan sosial masyarakat, serta membangun kemandirian umat.

Bagi peserta, penandatanganan tersebut bukan sekadar formalitas.
Ia menjadi pengingat bahwa masa depan NU Warulor tidak cukup hanya dibicarakan. Masa depan harus mulai disiapkan.
Membawa Hasil Musyawarah ke Pemerintah Desa
Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah audiensi dengan Pemerintah Desa Warulor.
Audiensi dipimpin oleh Sahabat M. Fatkhurrohim dan diterima oleh Sekretaris Desa Warulor, Bapak Cahyo Purnomo, yang hadir mewakili Kepala Desa, serta Ketua TP PKK Desa Warulor.
Dalam audiensi tersebut, NU menyampaikan hasil musyawarah sekaligus membuka ruang sinergi dengan Pemerintah Desa.
Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain pencegahan kenakalan remaja dan berbagai persoalan sosial, penguatan ketahanan keluarga, pembinaan generasi muda, penguatan SDM desa yang berorientasi keagamaan, keamanan dan respons cepat terhadap persoalan masyarakat, keterbukaan informasi desa, pemberdayaan masyarakat, serta pendampingan penyelesaian persoalan aset keumatan.
Termasuk di dalamnya adalah harapan agar Pemerintah Desa dapat ikut mendampingi dan memfasilitasi penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan aset aset keumatan, khususnya terkait status dan legalitas tanah, melalui komunikasi dan musyawarah dengan pihak-pihak terkait sesuai ketentuan yang berlaku.
Sinergi juga diharapkan dapat melibatkan Babinsa, Bhabinkamtibmas, PKK, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur kepemudaan dalam membangun lingkungan Warulor yang aman, sehat, religius, dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi muda.
Menanam Hari Ini untuk Masa Depan
Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Muslih Mudzakir.
Pertemuan ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun gagasan yang dibicarakan jauh lebih panjang dari durasi acara.
Ada cita-cita tentang NU Warulor 10 bahkan 20 tahun yang akan datang. Ada harapan tentang kader yang lebih kuat, organisasi yang lebih tertata, aset yang lebih bermanfaat, pelayanan umat yang lebih luas, serta masyarakat yang semakin mandiri dan sejahtera.
Sebab membangun organisasi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang ia dimulai dari keberanian untuk duduk bersama, mengakui persoalan, mendengarkan satu sama lain, lalu sepakat mengambil langkah pertama.
Pertemuan NU dan Banom Warulor kali ini adalah langkah pertama itu.
Menyatukan langkah.
Meneguhkan arah.
Membangun masa depan NU Warulor.
Dan seperti sebuah pohon yang ditanam hari ini, mungkin kita belum menikmati teduhnya.
Tetapi generasi setelah kita mungkin akan duduk di bawah rindangnya.