Minggu, 16 Agustus 2026

Terbit : Jum, 17 Juli 2026

Bulan Safar: Menepis Mitos “Bulan Sial” dengan Pesona Fikih dan Tasawuf

Oleh : Media Ansor Warulor
Bulan Safar: Menepis Mitos “Bulan Sial” dengan Pesona Fikih dan Tasawuf

Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah, tepat setelah Muharram. Alih-alih menjadi “bulan kesialan” seperti anggapan sebagian masyarakat, kacamata santri menilainya sebagai waktu penuh berkah untuk bertobat, beramal saleh, dan menggugurkan keyakinan jahiliah yang tidak berdasar.

Dalam Lisan al-‘Arab karya Ibn Manzhur disebutkan:

 سُمِّيَ صَفَرٌ لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانُوا يَصْفُرُونَ دِيَارَهُمْ

Dinamakan Safar karena orang Arab mengosongkan rumah-rumah mereka. Mereka keluar untuk berdagang, berperang, merantau, hingga rumah-rumah menjadi kosong (Sifr).

Membongkar Mitos: Apakah Safar Bulan Sial?

Jauh sebelum datangnya cahaya Islam, masyarakat jahiliah meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan penuh malapetaka, mendatangkan penyakit, bahkan membayangkan Safar seperti seekor ular di dalam perut yang menggigit manusia.

Tradisi kegelapan ini langsung dipatahkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari), Ibnu Hajar Al-Asqalani meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa. (HR. Bukhari)
Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah seperti Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini secara mutlak menghapus keyakinan takhayul. Waktu, hari, atau bulan tidak pernah memiliki daya rusak atau sial dengan sendirinya. Kesialan yang hakiki adalah saat seorang hamba melakukan maksiat kepada Allah SWT.

Mengapa Mitos Sulit Hilang?

Ini pelajaran psikologi yang sudah dibahas ulama. Syaitan tidak selalu membuat manusia menyembah berhala. Kadang cukup membuat manusia takut kepada sesuatu yang tidak Allah jadikan sebab. Misalnya: “Aduh…bulan Safar…”  Padahal Allah berfirman :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Tidak ada musibah kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11).
Artinya: yang menentukan musibah bukan bulan, tetapi Allah.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa salah satu tujuan syariat adalah membersihkan keyakinan manusia dari berbagai bentuk tathayyur dan kesialan yang tidak berdasar.

Karena itu, Safar justru menjadi momentum memperkuat tawakal, husnuzan kepada Allah, keyakinan bahwa seluruh waktu adalah ciptaan-Nya.

Tradisi Rebo Pungkasan

Di Nusantara dikenal istilah Rebo Pungkasan, yaitu Rabu terakhir bulan Safar. Sebagian masyarakat percaya bahwa pada hari itu turun ratusan ribu bala. Lalu mereka membuat shalat khusus, doa khusus, air penolak bala, ritual tertentu. Bagaimana hukumnya? Para ulama berbeda pendapat.

Yang perlu dibedakan, jika seseorang berdoa kepada Allah, bersedekah, memperbanyak istighfar, maka semua itu adalah amal saleh yang dianjurkan kapan saja. Namun jika diyakini bahwa “Hari itu pasti turun bala”, atau “Amalan ini pasti menolak bala khusus Rebo Pungkasan”, maka keyakinan tersebut memerlukan dalil yang sahih. Tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan adanya musibah khusus pada Rabu terakhir Safar ataupun ibadah khusus untuk hari tersebut. Dalam tradisi NU sendiri, para ulama umumnya mengingatkan agar masyarakat tidak menggantungkan keyakinan kepada mitos. Doa, sedekah, dan tawassul tetap baik sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, bukan karena meyakini adanya kekhususan yang tidak memiliki landasan syar’i.

Justru di sinilah pelajaran terbesar, apakah kita lebih percaya kepada Allah atau kepada mitos? Tauhid tidak hanya diuji ketika sujud, tauhid juga diuji ketika menghadapi rasa takut. Seorang mukmin tidak boleh takut memulai sesuatu hanya karena kalender. Allah berfirman: “Apabila engkau telah bertekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Para ulama tasawuf sering mengingatkan: “Musibah terbesar bukanlah datangnya bala, tetapi jauhnya hati dari Allah.” Boleh jadi seseorang hidup tanpa musibah, tetapi hatinya jauh dari Allah. Sebaliknya, ada yang diuji berkali-kali, namun justru semakin dekat kepada-Nya. Karena itu, ukuran keberuntungan bukanlah “bulan apa”, melainkan “bagaimana keadaan hati”.

Bulan Safar tidak pernah membawa kesialan, yang membawa kesialan adalah hati yang dipenuhi prasangka kepada Allah. Safar hanyalah satu dari dua belas bulan yang Allah ciptakan, ia tidak memiliki kuasa memberi untung ataupun rugi. Karena itu, sambutlah Safar dengan amal saleh, doa, ikhtiar, sedekah, dan tawakal. Jangan biarkan warisan mitos Jahiliah mengambil tempat di dalam hati seorang mukmin. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama:

الخير فيما اختاره الله

“Kebaikan sejati adalah pada apa yang Allah pilihkan.”
Maka, bila Allah masih mempertemukan kita dengan bulan Safar, jangan sibuk mencari kesialannya. Sibukkanlah diri mencari ridha-Nya. Sebab bagi orang yang bertauhid, tidak ada bulan yang sial; yang ada hanyalah kesempatan baru untuk semakin dekat kepada Allah.

Referensi :

  1. Sahih al-Bukhari, Kitab al-Tibb.
  2. Sahih Muslim, Kitab al-Salam.
  3. Imam an-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim.
  4. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Sahih al-Bukhari.
  5. Ibnu Rajab al-Hanbali, LaTa’if al-Ma’arif.
  6. Ibnu Manzur, Lisan al-‘Arab

Penulis: M. Fathurrozi, S.Sy (Ketua PR GP Ansor Warulor)

PR Gerakan Pemuda Ansor Warulor
Jl. Petani Rt. 13 Rw. 08 Warulor Wiradesa 51152
  • Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Warulor Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan - Sekretariat: Jl. Petani Rt 013/08 Desa Warulor