
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Salah satu bulan yang memiliki banyak keutamaan adalah bulan Muharam, bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai “Syahrullah” (bulan Allah). Di dalamnya terdapat hari yang sangat istimewa, yaitu tanggal 10 Muharam yang dikenal dengan Hari Asyura.
Peringatan 10 Muharam bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana untuk mengenang berbagai peristiwa besar dalam sejarah para nabi, meningkatkan ibadah melalui puasa sunnah, serta menumbuhkan kepedulian sosial dengan menyantuni anak yatim. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk menjawab tantangan kehidupan di era modern yang sering kali dipenuhi individualisme, materialisme, dan krisis kepedulian sosial.
Muharam merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan) dalam Islam. Allah SWT berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa bulan Muharam adalah waktu yang sangat baik untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa sunnah.
Peristiwa-peristiwa Penting pada 10 Muharam
Dalam berbagai riwayat dan literatur Islam disebutkan bahwa tanggal 10 Muharam bertepatan dengan sejumlah peristiwa besar yang dialami para nabi, di antaranya:
Peristiwa-peristiwa tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi orang-orang yang beriman, bersabar, dan tidak putus asa menghadapi ujian kehidupan.
Anjuran Puasa Sunnah Tasu’a dan Asyura
Salah satu amalan utama pada bulan Muharam adalah puasa Tasu’a (9 Muharam) dan Asyura (10 Muharam).
Rasulullah SAW bersabda: “Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa kaum Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharam sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS, beliau bersabda: “Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)
Karena itu para ulama menganjurkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharam untuk membedakan diri dari kebiasaan kaum Yahudi sekaligus menyempurnakan ibadah.
Lafadz Niat puasa sunnah Tasu’a:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَاسُوعَاء لِلّهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT.”
Lafadz Niat puasa sunnah Asyura:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَاشُورَاء لِلّهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
Menyantuni Anak Yatim: Wujud Kepedulian Sosial
Di tengah masyarakat Muslim Indonesia, 10 Muharam juga dikenal sebagai “Hari Raya Anak Yatim”. Momentum ini digunakan untuk berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim melalui santunan dan berbagai bentuk kepedulian sosial. Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada anak yatim.
Allah SWT berfirman:
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْيَتٰمٰىۗ قُلْ اِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌۗ
“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah: memperbaiki keadaan mereka adalah baik.” (QS. Al-Baqarah: 220)
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini.”
Kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan keduanya.
(HR. Bukhari)
Menyantuni anak yatim bukan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga perhatian, kasih sayang, pendidikan, dan pendampingan agar mereka tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia.
Relevansi 10 Muharam di Era Modern
Era digital membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan berbagai tantangan. Banyak orang semakin sibuk dengan urusan pribadi, media sosial, dan pencapaian duniawi sehingga kepedulian terhadap sesama mulai berkurang.
Nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan 10 Muharam sangat relevan untuk menjawab kondisi tersebut:
1. Menumbuhkan Semangat Muhasabah
Pergantian tahun Hijriah mengingatkan bahwa usia terus berkurang. Setiap Muslim perlu mengevaluasi kualitas ibadah, akhlak, dan kontribusinya kepada masyarakat.
2. Melatih Pengendalian Diri
Puasa Tasu’a dan Asyura mengajarkan disiplin, kesabaran, serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu di tengah budaya konsumtif yang semakin kuat.
3. Menguatkan Kepedulian Sosial
Santunan anak yatim mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari kekayaan, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.
4. Menumbuhkan Optimisme
Peristiwa penyelamatan para nabi menunjukkan bahwa setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar. Pesan ini sangat penting bagi masyarakat modern yang sering menghadapi tekanan ekonomi, pendidikan, maupun pekerjaan.
Peringatan 10 Muharam 1448 H hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata. Momentum ini perlu dijadikan sarana untuk meningkatkan ketakwaan melalui puasa sunnah Tasu’a dan Asyura, memperkuat kepedulian terhadap anak yatim, serta meneladani kesabaran dan keimanan para nabi.
Di tengah tantangan zaman modern, nilai-nilai Muharam mengajarkan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan materi, tetapi juga oleh kedekatan kepada Allah SWT serta kepedulian terhadap sesama manusia.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu mengambil hikmah dari bulan Muharam, memperbanyak amal saleh, dan senantiasa menebarkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Aamin yaa Rabbal ‘Aalamin.
Penulis: Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Desa Warulor