
Setiap bulan Ramadhan, umat Islam tidak hanya dianjurkan untuk memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga merenungi jejak para ulama besar yang telah mewariskan ilmu, keteladanan, dan perjuangan. Salah satu momen penting dalam sejarah Islam di Indonesia adalah wafatnya Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari pada 7 Ramadhan 1366 H. Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan gugurnya sebuah mercusuar ilmu dan akhlak bagi umat dan bangsa Indonesia.
KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan Dunia, yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sejak muda, beliau telah menimba ilmu dari berbagai pesantren Nusantara hingga ke Makkah. Ilmu yang beliau miliki tidak berhenti pada penguasaan kitab, tetapi diwujudkan dalam sistem pendidikan pesantren yang kokoh, membumi, dan berakar pada tradisi ulama salaf. Pesantren Tebuireng Jombang yang beliau dirikan menjadi pusat lahirnya ulama-ulama besar yang berperan penting dalam dakwah, pendidikan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Wafatnya KH. Hasyim Asy’ari pada 7 Ramadhan memiliki makna spiritual yang mendalam. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan perjuangan, dan bulan para kekasih Allah mendekatkan diri kepada-Nya. Para ulama menyebut wafat di bulan Ramadhan sebagai karunia besar, tanda husnul khatimah bagi hamba yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk agama.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)
Teladan Keikhlasan dan Keberanian
Wafatnya KH. Hasyim Asy’ari mengingatkan kita pada sikap ikhlas dalam berjuang dan berani dalam membela kebenaran. Fatwa Resolusi Jihad yang beliau canangkan pada 1945 menjadi bukti bahwa ulama tidak hanya berperan di mimbar dan pesantren, tetapi juga di garis depan mempertahankan kehormatan agama dan bangsa. Beliau mengajarkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman, selama dilandasi niat menjaga kemaslahatan umat dan nilai-nilai Islam.
حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْـمَانِ
“mencintai tanah air adalah bagian dari iman”
Meskipun beliau telah tiada, namun warisan beliau akan terus ada, baik melalui kitab-kitab dan pemikiran keilmuannya, pesantren dan lembaga pendidikan, Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyyah ijtima’iyyah dan nilai tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Semua itu menjadi pedoman umat Islam Indonesia dalam beragama secara moderat, santun, toleran dan luwes pada nilai-nilai lokal yang telah berurat berakar.
Mengenang wafatnya KH. Hasyim Asy’ari di 7 Ramadhan bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghidupkan kembali semangat beliau dalam diri kita; menjaga ilmu, akhlak, persatuan, dan keikhlasan. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meneladani ulama, memperbaiki niat, dan melanjutkan perjuangan dengan cara yang sesuai zaman namun tetap bersandar pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, meninggikan derajat beliau bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Semoga kita diakui sebagai santri beliau dan termasuk dalam doanya “Barangsiapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku, maka aku doakan husnul khatimah beserta anak-cucunya”. Aamiin.