
Kurang dari lima hari lagi, kita akan memasuki bulan Rabiul Awal 1447 hijriah. Artinya, kita akan memasuki bulan yang merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, bulan Rabiul Awal lebih sering disebut sebagai bulan Maulid. Disebut demikian karena dalam bulan ini terjadi sebuah kejadian yang agung yakni kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sosok paling mulia di dunia, sosok yang kita diperintahkan untuk senantiasa bershalawat untuk meraih syafaatnya.
Kehadiran Nabi Muhammad ke dunia ini membawa sebuah misi penting di antaranya adalah memperbaiki akhlak manusia. Misi ini menandakan bahwa akhlak menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia karena itulah yang akan membawa perdamaian dan ketentraman dalam setiap interaksi manusia dengan lingkungan sekitar.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Baihaqi, dan Hakim:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Akhlak menjadi bagian utama dalam bangunan kepribadian seorang muslim sehingga para ulama menyebut bahwa “Al-Adabu fauqal ‘ilmi” bahwa adab, tatakrama, akhlak, di atas ilmu yang dalam artian harus didahulukan untuk dimasukkan dalam diri setiap muslim. Dalam pendidikan pun sudah seharusnya mengedepankan aspek afektif (sikap dan karakter) dibanding aspek kognitif (kepintaran otak).
Pendidikan karakter dan akhlak generasi muda di era saat ini menjadi sangat penting. Hal ini karena tantangan zaman di tengah perkembangan teknologi semakin menjadi-jadi. Akibat perkembangan teknologi dan informasi saat ini, ancaman terhadap degradasi moral sangat terlihat di depan mata. Kita lihat bagaimana saat ini akhlak para generasi penerus kita sudah mulai tereduksi akibat gaya hidup digital di zaman modern.
Kejadian tindakan kriminal, asusila, kurangnya kepedulian sosial dan menurunnya rasa sosial-kemanusiaan yang dilakukan dan dimiliki generasi muda mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita rasakan mereka lebih asik bermain di dunia maya dengan gatgetnya dari pada bersosialisasi di dunia nyata. Kebiasaan berkomentar di media sosial yang tak melihat dengan siapa ia berbicara, terbawa dalam kehidupan nyata. Sehingga bisa dirasakan mereka menyamakan antara berbicara dengan teman dan berbicara dengan orang tua. Fenomena-fenomena ini patut direnungi oleh kita sebagai kader Ansor yang juga sudah banyak menjadi orang tua untuk selalu menjaga dan mengawasi anak-anak kita agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Di sisi lain kita berusaha memberikan pendidikan akhlak melalu perilaku kita.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi saat yang tepat untuk kembali memperkuat penjagaan pada akhlak generasi penerus. Perlu dipantau aktivitas mereka saat memegang gatget agar akhlak bisa benar-benar terjaga. Selain menjadikan Maulid sebagai momentum menjaga akhlak generasi muda, mari jadikan bulan Maulid ini sebagai kesempatan meningkatkan kuantitas dan kualitas shalawat dan cinta kita kepada Nabi Muhammad. Perbanyak shalawat, insyaallah hidup menjadi nikmat. Mengutip dawuh KH. Maimun Zubair “bagi pendosa shalawat adalah obat, bagi orang yang kesulitan shalawat adalah harapan, dan bagi yang memiliki masalah shalawat adalah jalan keluar”.
Akhir kata, menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarana introspeksi diri. Sudah sejauh mana kita meneladani akhlak Rasulullah? Dengan memperbanyak sholawat, amal kebaikan, dan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah, kita bisa menjadikan bulan ini sebagai momen untuk memperkuat iman dan menebar manfaat bagi sesama. Semoga kita bisa meneruskan dan mewujudkan misi Nabi kepada para generasi muda yakni menjadikan akhlak mulia sebagai sendi-sendi peradaban kehidupan manusia.