
Hari Guru Nasional bukan sekadar momentum peringatan seremonial, melainkan kesempatan untuk meneguhkan kembali makna al-ta‘līm dan al-tarbiyah sebagai fondasi keberlanjutan peradaban. Dalam tradisi Islam, guru tidak hanya diposisikan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga penjaga cahaya nilai (ḥamalat al-nūr) yang menghubungkan manusia dengan hikmah dan keteladanan.
Al-Qur’an telah menegaskan kehormatan ilmu dalam firman-Nya:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan para pemilik ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādalah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa kedudukan luhur seorang guru lahir dari ilmu yang ia miliki dan ia sebarkan. Dalam kerangka akademik pendidikan Islam, guru bukan hanya agen transfer knowledge, tetapi juga agent of transformation—membentuk karakter, adab, dan kesadaran spiritual masyarakat.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
اِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam perspektif fiqh dan tasawuf, ulama dan guru selalu dianggap penjaga kemurnian niat dan ilmu. Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menulis:
العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُونٌ، وَالعَمَلُ بِلا عِلْمٍ لَا يَكُونُ
“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu tidak akan terwujud.”
Guru hadir sebagai figur yang memadukan keduanya: keteladanan (uswah) dan pengetahuan (‘ilm). Seorang guru bukan hanya mengajarkan rumus, teori, atau konsep sosial, tetapi juga membangun etika berpikir, cara melihat kehidupan, dan bagaimana memposisikan diri sebagai manusia yang beradab.
Dalam Ta‘līm al-Muta‘allim, Syaikh Az-Zarnūjī menegaskan:
مَنْ لَمْ يَحْتَرِمِ العَالِمَ لَمْ يَنْتَفِعْ بِعِلْمِهِ
“Barang siapa tidak memuliakan gurunya, ia tidak akan mendapat manfaat dari ilmunya.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa relasi murid-guru bukan relasi fungsional, melainkan relasi spiritual, moral, dan intelektual. Di tangan guru yang ikhlas, ilmu tumbuh menjadi cahaya yang membimbing generasi dan masyarakat.
Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Ke-Ansoran, Bangsa Indonesia berdiri karena proses panjang pendidikan: dari pesantren, surau, madrasah, hingga sekolah modern yang membentuk karakter kebangsaan. Di lingkungan Nahdlatul Ulama dan Ansor, guru adalah sosok penjaga wasathiyyah, penjaga akhlak, serta jembatan antara tradisi dan modernitas.
Gerakan Pemuda Ansor menegaskan bahwa pendidikan adalah pilar keamanan sosial (social safety). Guru adalah penjaga generasi dari radikalisme, kebodohan, dan degradasi moral. Tanpa guru yang kuat, bangsa akan runtuh sebelum diserang.
Oleh sebab itu, menjadi guru adalah menjalani profesi yang tidak pernah selesai. Ia bekerja di ruang yang sunyi, tetapi hasilnya mengubah dunia. Seperti kata pepatah Arab:
قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ
“Nilai setiap manusia ditentukan oleh kualitas kebaikan yang ia lakukan.”
Guru adalah manusia yang menanam kebaikan, bahkan ketika tidak dilihat, tidak dipuji, tidak diberi tepuk tangan.
Maka pada Hari Guru ini, mari kita menundukkan kepala dengan penuh hormat. Kita berdoa agar Allah memberi kesehatan, keberkahan, dan pelipatgandaan pahala kepada seluruh guru: guru sekolah, guru madrasah, guru ngaji, kiai, nyai, dan semua pendidik yang telah menyalakan cahaya dalam hidup kita.
Semoga setiap huruf yang mereka ajarkan menjadi saksi amal jariyah yang tak terputus, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ … أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
“Amal manusia terputus kecuali tiga … salah satunya ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)
Selamat Hari Guru.
Semoga bangsa ini selalu dijaga oleh cahaya para pendidik.
Dan semoga Ansor selalu menjadi penjaga nilai dan keberkahan ilmu di tengah masyarakat.
Oleh : M. Fathurrozi, S.Sy